Wikipedia

Search results

Saturday, 7 June 2014

Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Era Globalisasi

Di era globalisasi, teknologi informasi berperan sangat penting. Dengan menguasai teknologi dan informasi, kita memiliki modal yang cukup untuk menjadi pemenang dalam persaingan global. Di era globalisasi, tidak menguasai teknologi informasi identik dengan buta huruf. Kemampuan teknologi informasi dan multimedia dalam menyampaikan pesan dinilai sangat besar.
Perbedaan utama antara negara maju dan negara berkembang adalah kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di negara-negara maju karena didukung oleh sistem informasi yang mapan. Sebaliknya, sistem informasi yang lemah di negara-negara berkembang mengakibatkan keterbelakangan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi, tampak jelas bahwa maju atau tidaknya suatu negara sangat ditentukan oleh penguasaan terhadap informasi, karena informasi merupakan modal utama mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi senjata pokok untuk membangun negara. Sehingga, apabila satu negara ingin maju dan tetap eksis dalam persaingan global, maka negara tersebut harus menguasai informasi.
Di tahun yang sudah termasuk modern ini, generasi muda Indonesia pun sudah akrab dengan yang namanya teknologi dan segala peralatannya. Anak-anak dengan usia sekolah dasar pun sudah dibekali dengan pengenalan akan teknologi. Akun-akun jejaring sosial, rata-rata banyak dimiliki dan dikuasai oleh anak-anak sekolah.
Mobil-Unit-Internet
Jika kita lihat di masa sebelumnya, beberapa tahun yang lalu, orang yang telah dewasa pun belum tentu menguasai teknologi dan internet, serta perangkat teknologi lainnya masih menjadi barang yang “WAH” karena memiliki harga yang mahal. Tetapi, pasar gadget di Indonesia dan luar negeri terus bersaing, saling berlomba menciptakan gadget dengan harga terjangkau, tetapi memiliki segudang fitur. Tujuannya tentu saja agar teknologi dapat dinikmati berbagai kalangan dan juga untuk menari keuntungan.
Anak usia sekolah 15 tahun, hendaknya tidak diperbolehkan untuk mengaktifkan akun jejaring sosial, karena belum mengerti akan bahaya dan dampak negatif dari jejaring sosial itu sendiri. Banyak juga terjadi kasus kriminal lewat jejaring sosial, penipuan, bahkan pembunuhan yang bermula dari perkenalan di jejaring sosial.
Teknologi diciptakan untuk dikendalikan manusia, dan bukan mengendalikan manusia. Orang tua setidaknya harus mampu mengawasi putra-putrinya dalam penggunaan teknologi, agar tidak salah langkah dalam menggunakannya.
Generasi muda Indonesia beranekaragam. Ada yang kreatif, produktif, inisiatif, inovatif, cerdas, dan ada juga yang sebaliknya. Tetapi, dalam hal merubah dunia, kita tidak memandang generasi muda yang seperti apa yang diutamakan. Kiranya, generasi muda Indonesia dapat bersatu dan bisa saling mendukung dalam hal memajukan dunia, tanpa memandang ras, agama, dan latar belakang etnis lainnya.
Dengan media pena dan kertas, serta pikiran kreatif anak-anak muda yang ada di Indonesia, dapat lahir berbagai macam ide yang pada akhirnya dapat mengubah dunia. Generasi muda sangat penting untuk masa depan. Karena, sebagian besar ilmu dan kemampuan yang ada di dunia ini, dilimpahkan kepada generasi muda.
Pengaruh majunya era globalisasi dan informatika menjadikan komputer dan internet sebagai perkembangan teknologi informasi yang harus ada dan tidak boleh kekurangan di kehidupan kita. Kemampuan untuk berbicara bahasa asing dan kemahiran komputer adalah dua kriteria yang biasa diminta dari masyarakat untuk memasuki era globalisasi baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Maka, dengan adanya komputer yang telah merambah di segala bidang kehidupan manusia, perlu adanya sistem pendidikan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa masyarakat dan kemahiran komputernya.
Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Sampai saat ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas di seluruh dunia. Oleh karena itu, globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.
Dalam menghadapi tantangan kehidupan modern, kreativitas dan kemandirian sangat diperlukan untuk mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan. Kreativitas itu sendiri merupakan kemampuan berpikir yang memiliki kelancaran, keluwesan, keaslian, dan perincian yang ditandai dengan motivasi yang kuat, rasa ingin tahu, berani menghadapi resiko, tidak mudah putus asa, selalu mencari pengalaman baru, serta menghargai diri sendiri dan orang lain. Sedagkan, kemandirian sendiri merupakan kunci utama bagi individu untuk mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan kehidupannya. Dari deskripsi di atas, dapat dikatakan bahwa tenologi informasi dan komunikasi memberikan peluang untuk berkembangnya kreativitas dan kemandirian masyarakat. Masyarakat juga akan memperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga dapat meningkatkan wawasannya.
34PC_web_teknologi_430x297
Penggabungan antara teknologi komputer dengan telekomunikasi telah menghasilkan suatu revolusi di bidang sistem informasi. Data atau informasi zaman dahulu harus memakan waktu berhari-hari untuk diolah sebelum dikirimkan ke sisi lain di dunia, yang saat ini dapat dilakukan hanya dengan hitungan detik. Hebat, bukan???

KERUSAKAN MORAL DAN GAYA HIDUP REMAJA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI

A.  Latar Belakang
          Seperti yang di muat dalam pancasila khususnya sila ke-2 “Kemanusiaan yang adil dan beradap”. Dari pernyataan ini mengandung maksud bahwa rakyat Indonesia diharapkan untuk hidup adil dan beradap. Untuk mencapai masyarakat yang beradap di perlukan moral dan gaya hidup yang baik. Moral dan gaya hidup bangsa Indonesia tercermin pada perbuatan-perbuatan  rakyat Indonesia itu sendiri khususnya para remaja sebagai generasi penerus sekaligus ujung tombak bangsa Indonesia.
          Menurut Moetojib (2008:01) langkah yang perlu diambil bangsa Indonesia menghadapi persoalan bangsa pada era globalisasi dan memasuki usia ke-63 adalah melakukan rekonstruksi moral secara total dengan membangun kembali karakter dan jati diri bangsa (Nation and character building). Selain melakukan rekonstruksi moral juga melakukan konsolidasi kebangsaan dengan melaksanakan langkah strategi memperkuat komitmen kebangsaan dan bersama membangun ke Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.
          Dari pengamatan penulis terhadap gaya hidup dan kelakuan remaja di lingkungan sekitar bahwa banyak remaja khususnya remaja putri yang berpakaian seksi dan menggugah gairah seks lawan jenisnya. Serta banyak juga pemuda yang membentuk gank dan sering kumpul di perempatan jalan sambil minum-minuman keras sehingga meresahkan masyarakat sekitar.
          Dari uraian diatas, penulis berpendapat bahwa  keadaan moral dan gaya hidup remaja Indonesia saat ini telah telah mengalami kerusakan dan perlu di perbaiki lagi. Sebab gaya hidup dan moral mereka sudah tidak sesuai lagi dengan kepribadian bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Sehingga dari semua pihak yang terkait perlu membantu demi kesadaran dan kebaikan generasi penerus kita.
          Dengan memperhatikan ulasan uraian di atas, kaya tulis ini berjudul “Kerusakan Moral dan Gaya Hidup Remaja Indonesia di Era Globalisasi“.

B. DEFINISI OPRASIONAL
1. Moral
          Menurut Wikipedia bahasa Indonesia (2010) Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya.Moral adalah produk dari budaya dan Agama.
2. Gaya Hidup
          Menurut Azis (2009:01) Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam    aktivitas, minat dan opini khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya.
3. Remaja
          Menurut Wikipedia bahasa Indonesia (2010:01) Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa.
4. Globalisasi
        Menurut Wikipedia bahasa Indonesia (2010:01) Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.

C.  Keadaan Moral dan Gaya Hidup Remaja Indonesia Dilihat Dari Beberapa Kasus
     1. Demo Mahasiswa Tuntut S B Y - Boediono Turun Tahta
Jakarta, 28 Januari 2010 ribuan massa terus memadati halaman luar istana merdeka mereka terus merengsek menuju gedung megah tersebut dari tiga penjuru, Jl. Medan  Merdeka utara, Jl. Medan merdeka Barat dan Jl. Majapahit. Massa dari arah Jl. Medan Merdeka Utara di tutup oleh massa dengan berdiri membentuk Blokade menutup jalan tesebut. Demikian juga massa menutup jalan dari arah harmoni menuju Medan merdeka barat dengan membentuk blokade juga.
Ribuan orang dari Gerakan Indonesia Bersih (G I B) terlibat aksi dorong - dorongan dengan aparat kepolisian di depan kantor memko kesra, massa yang mengusung “ SBY GAGAL “ ini terus berusaha menerobos istana Negara.
Selain itu, demonstran komite aksi pemuda anti korupsi (KAPAK) akhirnya bergerak menuju depan istana untuk bergabung bersama massa GIB. Kemudian dua buah peti mati imitasi yang bertuliskan “Alm Boediono” dan Alm. Sri mulyani “mereka lempar besama enam ekor tikus putih yang terdapat dalam sangkar melewati brikade brimob di depan istana.
Dalam aksi ini seorang polisi yang sedang menghalau massa terkena pukulan kayu dari demonstran di bagian pelipis sebelah kanan. Kemudian dia langsung di larikan ke RS. Terdekat.
                           (Sumber: http//hariansib.com/pp=108919)

           Dari kasus di atas, penulis berpendapat bahwa tindakan yang di lakukan oleh mahasiswa itu merupakan contoh moral dan perilaku yang kuang baik, karena sebagai seoang pelajar seharusnya kita menyampaikan kritik atau pendapat dengan cara yamg baik seperti demo dengan cara yang tertib dan aman, tidak menganggu ketertiban umum, tidak merusak fasilitas umum, dan tidak perlu menggunakan kekeasan. Bukan malah menganggu ketertiban umum seperti menutup jalan yang membuat lalulintas menjadi macet dan merugikan orang lain. Karena pada hakikatnya kita marah pada pemerintah namun kenapa yang kita rugikan dan yang menanggung akibatnya adalah para penguna jalan yang tidak bersalah? selain itu, fasilitas umum yang kita rusak itu sebenarnya tidak telalu menyengsarakan pemeintah, karena untuk mengganti fasilitas yang kita rusak tadi pemerintah menggunakan anggaran Negara yang pemasukannya sebagian besar dari pajak yang orang tua kita bayar. Dan anggaran Negara tadi seharusnya di gunakan untuk mensejahterakan rakyat namun malah di gunakan untuk mengganti fasilitas yang telah kita rusak. Kemudian tindak kekerasan, sebagai manusia yang bermoral seharusnya dalam menyampaikan suatu kritik atau pendapat kita tidak perlu terlalu emosi sampai melakukan tindakan kekerasan. Karena perilaku kekerasan seperti kasus di atas salah satu cermin remaja yang tidak mempunyai moral yang baik.
           Perlu kita ingat, bahwa sebagai remaja tujuan hidup kita masih panjang. Bagaimana kalau dengan melakukan demo yang tidak sehat tubuh kita menjadi cidera, cacat, bahkan meninggal dunia? Apakah kita tidak kasihan terhadap kedua  orang tua kita yang telah membanting tulang membiayai kita dari sejak kecil sampai sekarang? padahal mereka berharap dengan menyekolahkan kita, kelak kita bisa menjadi orang yang sukses dan bahagia. Kemudian apabila kita cacat bahkan sampai meneninggal dunia, bagaimana kita bisa mewujudkan impian orang tua kita yang selalu berdo’a dan berharap untuk kesuksesan dan kebahagiaan kita? Maka dari itu, sebagai seorang remaja jangan sampai kita berbuat nekat dalam melakukan sesuatu. Kita harus befikir dua kali yaitu apakah perbuatan yang kita lakukan itu banyak  baiknya atau banyak malah buruknya?
          Karena kita tinggal di Negara yang demokratis, aspirasi/pendapat memang sangat perlu kita sampaikan kepada pemimpin/pemeintah untuk kemajuaan dan kebaikan Negara. Namun cara yang kita lakukan harus benar dan sesuai aturan. Sebab segala sesuatu kalau di lakukan dengan prosedur dan langkah yang baik dan benar, pasti hasilnya akan lebih memuaskan karena tidak akan menimbulkan dampak yang membahayakan bagi diri kita maupun orang lain.
          Menurut pendapat penulis, untuk mengurangi kasus demo yang tidak sehat seperti kasus di atas, di perguruan-perguruan tinggi maupun sekolah-sekolah, seharusnya di berikan pelajaran yang berkaitan dengan moral dan perilaku yang mencerminkan bangsa Indonesia yang baik, seperti cara menyampikan aspirasi yang baik dan benar serta akibat-akibat buruk yang ditimbulkan apabila penyampain aspirasi kita tidak sesuai dengan prosedur yang benar, baik akibat untuk diri sendiri, pemerintah, terlebih masyarakat yang tidak bersalah. Selain itu dari pihak pemerintah sendiri seharusnya tidak melakukan perbuatan/tindakan yang memicu kemarahan masyarakat  agar Negara kita ini menjadi Negara damai, aman, dan sejahtera.

    2. Kekerasan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP)
08 Februari 2010, tiga Mahasiswa junior sekolah tinggi ilmu pelayaran (STIP) Jakarta menjadi bulan-bulanan pemukulan seniornya. Dua diantaranya mengalami luka di wajah dan bibir hingga berdarah.
Dalam sebuah video di perlihatkan sejumlah taruna junior di bariskan di sebuah lorog. Mereka kemudian ditempeleng dan dipukul. Tampak seorang senior memegang kepala juniorn sementara senior lainnya menampar wajah sang junior. Tak lama bibir junior berdarah dan menetes ditelapak tangannya.
 (sumber: http://www.yuotube.com/watch?v=YFllckD7aJ4)

          Menurut pendapat penulis, kasus di atas merupakan salah satu bentuk kerusakan moral remaja Indonesia, karena remaja Indonesia yang seluruhnya mendapatkan ajaran dan didikan yang baik di kampusnya namun malah mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari seniornya. Tindak kekerasan yang dilakukan seperti kasus diatas dapat mencetak moral dan tingkah laku generasi penerus bangsa menjadi pribadi yang keras, semena-mena, pendendam, dan tidak manusiawi.  
Kepribadian tersebut bisa terjadi karena :
  1. Kepribadian keras
         Seseorang yang di didik keras serta berada di lingkungan yang keras cenderung menjadi seorang yang berkpribadian keras. Dan seorang yang berkepribadian keras itu dapat membahayakan lingkungan sebab dia akan berfikir bahwa semua keinginanya harus terpenuhi dengan cara apapun tanpa mempedulikan orang lain di sekitarnya.
  1. Semena-mena
          Dengan perbuatan penyiksaan tanpa belas kasihan seperti kasus diatas dapat mencetak kepribadian  seseorang menjadi semena-mena. Dan kepribadian yang semena-mena tersebut dapat menyengsarakan orang lain sebab dia tidak akan mempunyai rasa iba terhadap apa yang dilakukan terhadap orang lain.
  1. Pendendam
          Karena rasa marah dan jengkel dihati sang junior terhadap perlakuan senior tidak dapat tersalurkan, maka timbul rasa dendam dihati sang junior. Lalu dia akan berusaha untuk menyalurkan kemarahannya itu kepada juniornya di kemudian hari. Begitulah seterusnya kedendamana akan terrus berlamjut, padahal sifat dendam merupakan salah satu sifat yang dapat memancing tidakan kriminal, namun kenapa sifat semacam ini malah dipupuk di perguruan tinggi ini ?
  1. Tidak Manusiawi
          Tindakan pemukulan dan penyiksaan seperti kasus diatas merupakan salah satu tindakan yang tidak manusiawi. Karena sang senior terus menyiksa dan memukuli junior tanpa mempedulikan perasaan dan rasa sakit sang junior. Serta seolah menganggap sang njunior sebagai binatang bulan-bulanan mereka. Tindakan semacam ini sangat bertolak belakang dengan azas dan kepribadian bangsa Indonesia. Lalu bagaimanakah nasib bangsa Indonesia ke depan apabila sikap seperti ini menjadi kepribadian generasi penerus Bangsa?
         Didalam sebuah perguruan tinggi atau yang sederajat mahasiswa seharusnya di didik menjadi sesosok pemimpin yang luhur, baik, cerdas, pandai, dan bermoral bukan di didik menjadi seorang yang suka berbuat kekerasan. Karena tujuan kita melanjutkan ke perguruan tinggi atau yang sederajat adalah untuk mencari ilmu dan mengasah keterampilan kita yang kelak akan kita gunakan untuk bekal hidup dimasa depan. Jadi intinya penulis sangat tidak setuju terhadap prilaku kekerasan yang dilakukan senior terhadap junior di suatu perguruan tinggi atau sederajat seperti kasus diatas dengan alasan apapun. Karena perbuatan tersebut tidaak mendidik generasi penerus bangsa menjadi lebih baik, namun sebaliknya malah merusak moral dan tingakah laku kita.
         Menurut pendapat penulis agar kasus kekerasan semacam ini tidak terulang kembali maka pihak perguruan tinggi harus melarang dan menghapus program semacam ini dikampusnya. Serta lebih mengawasi secara ketat kegiatan yang dilakuakan oleh para mahasiswanya. Kemudian dari pihak pemerintah harus membuat dan menegakkan sanksi hukum yang tegas terhadap prilaku kekerasan di perguruan tinggi. Agar para mahasiswa takut dan tidak melakukan perbuatan semacam ini lagi.

     3. 41 Kasus Hamil di Luar Nikah Dalam Sebulan di Bali
12 September 2009, kehamilan tak diinginkan atau KTD di pulau Dewata mencapai 500 kasus selama September 2008 hinga September 2009, atau rata-rata 41 kasus dalam satu bulan. Demikian diungkapkan Kita Sayang Remaja (KISARA) Bali. Kasus akibat prilaku seks bebas pada kalangan remaja ini paling banyak terdapat di kabupaten Badung dan Denpasar. Dari data konselingh terhadap remaja yang mengalami KTD, beberapa orang diantaranya melanjutkan ke jenjang pernikahan dan melanjutkan kehamilannya. Namun, terdapat juga remaja yang mengaku telah mencoba aborsi dengan cara mengkonsumsi pill tertentu ataupun ramuan-ramuan.
(sumber: http://rastadiary.wordpress.com//2009/04/12/hamil-diluar-nikah-di- bali/)

          Menurut pendapat penuilis, kasus hamil di luar nikah seperti di atas merupakan bentuk nyata kerusakan moral dan tingkah laku para remaja. Sebab pada intinya perbuatan tersebut dapat terjadi kerena seorang remaja tidak dapat mengendalikan nafsu birahinya.  Hubungan seks di luar nikah seperti ini tidak sepatutnya di lakukan oleh seorang manusia. Sebab manusia telah di beri akal dan pikiran. lalu apa bedanya manusia dengan hewan kalau cara pemenuhan hasratnya seperti ini? Kita sebagai remaja Indonesia yang berlandaskan pancasila tentunya mempunyai keyakinan agama yang kita anut. Kemudian di dalam agama pasti telah di ajarkan cara-cara yang di lakukan sebelum melakukan hubungan sexs agar halal dan bermanfaat yaitu menikah. Namun, kenapa cara yang diajarkan tersebut tidak kita lakukan dengan baik? Malah kita memilih jalan lain yaitu jalan yang sesat. Padahal dampak negatif dari penyalah gunaan sexsual amatlah banyak dan sangat membahayakan baik di dunia terlebih di akhirat kelak. Salah satunya adalah penularan penyakit HIV .tindakan pembunuhan (Aborsi), di kucilkan/di hina orang lain, di keluarkan dari sekolah (jika masih ada di bangku sekolah menengah/di bawahnya ), bunuh diri karena rasa malu, dan jika ia orang islam amal ibadahnya tidak akan di terima oleh Allah selama 70 tahun serta akan mendapat siksaan di akhirat kelak.
          Karena banyak nya dampak negative dari penyalah gunaan seksual seperti di atas seharusnya kita sebagai remaja yang bermoral tidak sepantasnya melakukan perbuatan yang sangat hina ini. Sebab bagaimana nasib bangsa Negara Indonesia kelak apabila remaja sebagai calon pemimpin Negara mempunyai sifat yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu seperti ini namun malah mengumbarnya. Pasti Negara kita ini akan manjadi Negara yang rusak dan hancur sebab para pemimpin akan menyalah gunakan kekuasaan demi memenuhi nafsu birahinya. Maka dari itu, mulai dari sekarang kita harus belajar dan berusaha menahan hawa nafsu khususnya dalam bidang penyalah gunaan seksual agar kita terbiasa berperilaku sabar dan mempunyai moral yang beradap.
          Menurut pandapat penulis agar kasus penyalah gunaan seksual seperti ini tidak terulang kembali atau dapat di kuarangi, seharusnya kita sebagai seorang remaja seharusnya menambah ilmu agama dan keimanan kita, karena dengan agama seorang akan mempunyai pegangan hidup dan dia akan terhindar dari perilaku yang menyimpang seperti ini. Selain itu, pengawasan orang tua terhadap anaknya juga tidak kalah penting. Karena pada umumnya kasus penyalah gunaan seksual ini bermula dari pergaulan yang tidak sehat (pergaulan bebas). Maka dari itu perhatian orang tua terhadap pergaulan anaknya sangat di perlukan dalam kasus ini. Kemudian dari pihak pemerintah harus bisa memberantas usaha-usaha ilegal aborsi. Sebab kegiatan ini merupakan salah satu pendorong terjadinya kasus penyalah gunaan seksual.

 4.  Pakaian Remaja Masa Kini
Remaja mempunyai banyak cara untuk mencari perhatian. Beberapa di antaranya adalah tampil dengan nyleneh, tampil beda dari yang lain. Mulailah mereka terlihat aneh dengan penampilaan yang kadang  mengundang kontrofrsi. Oarng tua dan guru pun jadi lemas karena apa yang di tampilkan itu di nilai melenceng dari adat ketimuran. Busana jadi serba mini bagi remaja wanita sangat di sukai. Sedangkan yang pria tampil lebih percaya diri dengan aksesoris di tubuhnya. Remaja memang suka tampil aneh-aneh, hal ini sering dilontarkan ketika mengamati penampilan mereka di beberapa tempat umum yang tak lazim dapat mencermati dari cara-cara busana dan performance fisik mereka. Tampilan busana remaja sangat bergantung dari mode yang sedang tenar. Trend ini tentu saja di bawa oleh para remaja yang bisa saja memberi inspirasi mereka dari segi penampilan. Termasuk ketika beberapa dari remaja tampil dengan busana yang mini, Tatto permanent di tubuhnya atau tindik yang tak hanya di telinga sebagaimana wajarnya.
(Sumber : http://bikin.web.id/tag/pakian-masa-kini/)

          Dari kasus di atas penulis berpendapat bahwa gaya hidup remaja khususnya remaja puteri yang senang mengenaikan pakaian dengan kelihatan auratnya, merupakanm salah satu perilaku yang kurang baik dan tidak sopan. Sebab tindakan tersebut dapat menarik perhatian dan gairah seks lawan jenisnya sehingga perilaku tersebut merupakan salah satu penyebab tindak kejahatan yaitu pemerkosaan. Sebagai remaja yang beradap, tentunya kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan kesantunan dalam berpakaian. Jangan malah kita merusak kepribadian bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bermoral menjadi bangsa yang tidak mempunyai sopan santun karena mengikuti trand dari bangsa barat. Jangn mudah terpengaruh oleh hal–hal yang baru. Namun kita harus pintar-pintar memilah dan memilih kebudayaan yang masuk pada diri kita supaya kita tidak terjerumus pada kebudayaan yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
          Sebenarnya tanpa diumbar pun keseksian/kecantikan seorang wanita itu sudah dapat di rasakan dan dilihat oleh lawan jenisnya, yaitu melalui sikap dan perilakunya. Namun kenapa kita sebagai remaja yang bermoral malah memperlihatkan sesuatu yang seharusnya di sembunyikan dan tidak sepantasnya di perlihatkan di depan umum? Kasus semacam ini merupakan kasus yang sudah di anggap biasa oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia. Sebab sudah banyak remaja yang mengenakan pakaian seksi dan ketat tanpa rasa malu. Mereka dengan PD-nya berjalan ditempat umum bahkan menyanyi diatas panggung. Prilaku semacam ini merupakan bukti nyata rusaknya moral dan prilaku remaja Indonesia dalam hal berbusana. Maereka tidak sadar bahwa sebenarnya moral bangsa kita ini telah dijajah oleh bangsa barat karena kita telah mengikuti prilaku mereka yang salah. Maka dari itu kita harus sadar dan merubah prilaku kita menjadi pribadi yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
          Menurut penulis cara yang paling efektif dalam menyelesaikan masalah ini adalah kesadaran diri remaja Indonesia itu sendiri. Sebab Negara kita ini sangat memjunjung tinggi hak asasi manusia sehingga prilaku semacam ini tidak dapat ditindak lanjuti oleh orang lain. Selain itu ajaran agama juga merupakan cara yang efektif dalam mencegah terjadinya prilaku seperti ini. Karena dalam agama tertuang ajaran-ajaran mengenai cara berbusana yang baik dan bernar. Serta akibat-akibat buruk yang bisa terjadi pada wanita yang berbusana seperti telanjang, baik akibat buruk didunia maupun diakhirat kelak.

D.  Kesimpulan dan Saran
 1. Kesimpulan
          Dari kasus diatas, moral dan gaya hidup remaja Indonesia di era globalisasi ini dapat di simpulkan bahwa telah mengalami kerusakan dan sangat perlu diperbaiki. Sebab kalau tidak segera di perbaiki, nasib bangsa Indonesia ke depan pasti akan semakin memprihatinkan.
          Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran yang tinggi dari masing-masing remaja untuk dapat mengubah dan memperbaiki prilaku dan moralnya. Karena dengan kesadaran dari diri kita sendiri, maka prilaku kita dapat diperbaiki tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Sehingga hasilnya pasti akan lebih memuaskan dan IngsyaAllah nasib bangsa Indonesia ke depan pasti akan lebih makmur dan sejahtera karena dipimpin oleh orang-orang yang memiliki kepribadian dan moral yang baik.
  1. Saran
a.   Kepada Remaja Indonesia
          penulis menyarankan kepada generasi penerus  bangsa Indonesia agar memperdalam ilmu agamanya karena dengan berpedoman dengan ilmu agama seseorang akan memiliki kepribadian yang luhur dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif.
b.   Kepada Pemerintah Indonesia
             Penulis menyarankan kepada pemerintah agar memprogramkan pendidikan di sekolah dengan pendidikan moral dan kepribadian yang baik. Jangan cuma menuntut skil dan penguasaan materi pelajaran duniawi saja. Sebab pendidikan moral dan tingkah laku juga sangat dibutuhkan para generasi penerus untuk membangun bangsa yang lebih baik.
c.    Kepada Orang Tua Remaja Indonesia
          Penulis menyarankan kepada orang tua agar lebih memperhatikan tingkah laku dan pergaulan anaknya. Sebab dengan perhatian yang diberikan dari ke-2 orang tua, anak akan lebih terkaendali dan tidak mudah terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif. Kemudian orang tua juga harus mendidik kepribadian yang bagus kepada anaknya sedari kecil. Karena pendidikan yang dimulai sejak kecil akan lebih tertanam dalam kepribadian seorang anak.

Perkembangan Teknologi Pada Era Globalisasi

Perkembangan Teknologi Komunikasi    PDF Print E-mail

Di era globalisasi, teknologi informasi berperan sangat penting. Dengan menguasai teknologi dan informasi, kita memiliki modal yang cukup untuk menjadi pemenang dalam persaingan global. Di era globalisasi, tidak menguasai teknologi informasi identik dengan buta huruf.

Teknologi Informasi (TI) dan multimedia telah memungkinkan diwujudkannya pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, yang melibatkan siswa secara aktif. Kemampuan TI dan multimedia dalam menyampaikan pesan dinilai sangat besar. Dalam bidang pendidikan, TI dan multimedia telah mengubah paradigma penyampaian materi pelajaran kepada peserta didik. Computer Assisted Instruction (CAI) bukan saja dapat membantu guru dalam mengajar, melainkan sudah dapat bersifat stand alone dalam memfasilitasi proses belajar.

Penekanan penting akan memaksimumkan sumber daya manusia di semua sektor, berarti kita akan membutuhkan sistem komunikasi yang sangat efektif. Apabila kita merespons pada kebutuhan fokus awal seharusnya lebih berdasarkan penerimaan informasi daripada penyebaran informasi. Hal ini hampir memutarbalikan peran jika dibandingkan dengan peran komunikasi administrasi pendidikan yang dulu.

Perbedaan utama antara negara maju dan negara berkembang adalah kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di negara-negara maju karma didukung oleh sistem informasi yang mapan. Sebaliknya, sistem informasi yang lemah di negara-negara berkembang mengakibatkan keterbelakangan dalam penguasaan.ilmu pengetahuan.dani teknologi. Jadi jelaslah bahwa maju atau tidaknya suatu negara sangat di tentukan oleh penguasaan teirhadap informasi, karena informasi merupakan modal utama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan.teknologi yang menjadi senjata pokok untuk membangun negara. Sehingga apabila satu negara ingin maju dan tetap eksis dalam persaingan global, maka negara tersebut harus menguasai informasi. Di era globalisasi dan informasi ini penguasaan terhadap informasi tidak cukup harnya sekedar menguasai, diperlukan kecepatan dan ketepatan. Sebab hampir tidak ada guna menguasai informasi yang telah usang, padahal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat mengakibatkan usia informasi menjadi sangat pendek, dengan kata lain, informasi lama akan diabaikan dengan adanya informasi yang lebih baru.

Masukan (input) dan kontribusi langsung dari para pemegang peran (stakeholders) yang lain; siswa, orang tua dan anggota masyarakat juga memberikan informasi yang sangat membantu dan meningkatkan dukungan masyarakat bagi pengembangan sekolah. Jika obyektifitas utamanya adalah memaksimalkan pendidikan sumber daya manusia maka hal itu telah meningkatkan hubungan komunikasi kita dengan seluruh sektor lingkungan pendidikan dan para pemegang peran (stakeholders). Lagipula kunci utama untuk meningkatkan komunikasi harus terfokus pada saling berbagi komunikasi terbuka dan meningkatkan kesempatan untuk mendapatkan dukungkan dari segala bidang.

Kehidupan kita sekarang perlahan lahan mulai berubah dari dulunya era industri berubah menjadi era informasi di balik pengaruh majunya era globalisasi dan informatikamenjadikan computer, internet dan pesatnya perkembangan teknologi informasi sebagai bagian utama yang harus ada atau tidak boleh kekurangan dikehidupan kita. Aktifitas network globalisasi ekonomi yang disebabkan oleh kemajuan dari teknologi informasi bukan hanya mengubah pola produktivitas ekonomi tetapi juga meningkatkan tingkat produktivitas;dan pada saat bersamaan juga menyebabkan perubahan structural dalam kehidupan politik, kebudayaan, kehidupan sosial masyarakat dan juga konsep waktu dalam dalam berbagai lapisan masyarakat.

Tanggung jawab sekolah dalam memasuki era globalisasi baru ini yaitu harus menyiapkan siswa untuk menghadapi semua tantangan yang berubah sangat cepat dalam masyarakat kita. Kemampuan untuk berbicara bahasa asing dan kemahiran komputer adalah dua kriteria yang biasa diminta masyarakat untuk memasuki era globalisasi baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Maka dengan adanya komputer yang telah merambah di segala bidang kehidupan manusia hal itu membutuhkan tanggung jawab sangat tinggi bagi sistem pendidikan kita untuk mengembangkan kemampuan berbahasa siswa dan kemahiran komputer.

Kemerdekaan Sebuah Bangsa Dalam Era Globalisasi di Zaman Modern

Konsep Penjajahan Modern

Pada masa lalu kemerdekaan sebuah bangsa lebih banyak di tandai oleh kebebasan dari penjajahan secara fisik. Penjajah pada masa lalu biasanya datang menggunakan senjata lengkap dengan peluru dan peralatan tempur lainnya. Pertempuan melawan penjajah dapat berakibat fatal dengan taruhan nyawa melayang.
Pada saat ini, kebanyakan negara di dunia secara fisik nampaknya bebas dati penjajahan secara konvensional tersebut. Tentara / prajurit lebih banyak berfungsi untuk menjaga keamanan negara dari kaum perusuh dan mungkin teroris. Yang lebih sering bermotif agama. Tidak terlalu banyak konflik yang bermotif kebangsaan.
Walaupun tampak seperti negara merdeka, sebetulnya kebanyakan negara masih tidak merdeka secara non-fisik. Penjajahan pada hari ini tampaknya jauh lebih halus bentuknya dari pada masa lalu. Penajajah hari ini lebih banyak bersifat penjajahan ekonomi yang membuat sebuah bansga tidak mandiri, menjadi sangat tergantung.
Dalam bahasa ekonomi, penjajahan lebih bersifat konsumen versus produsen. Negara yang di “jajah” biasanya berada pada posisi konsumen, yang sangat tergantung pada negara “penjajah” yang berada pada posisi produsen. Posisi ini, di usahakan sedapat mungkin bertahan agar negara yang di “jajah” tetap membeli & akhirnya mengalirkan devisa secara terus menerus ke negara “penjajah” yang memproduksi barang / jasa tersebut.
Penjajahan modern ini sebetulnya mengakar mulai dari yang paling dasar, yaitu, pangan dan energy. Di Indonesia misalnya, pemerintah lebih suka membuat kebijakan mengimport bahan pangan murah dari luar negeri di bandingkan dengan memberdayakan kaum petani lokal. Akibatnya, petani menjadi bangkrut dan ini menyeret seluruh bangsa menjadi kaum fakir yang harus mengimport makanan terus menerus untuk bisa hidup. Tidak ada usaha serius untuk mempertahankan kaum petani ini. Di bidang energy, juga tidak berbeda jauh dengan pangan.

[edit] Mari Berhitung

Mari kita berbicara tentang teknolologi khususnya teknologi IT. Sebetulnya secara prinsip sama saja dengan bidang yang lain.
Pertanyaan sederhana pada diri kita masing-masing, msailnya,
  • Siapa yang membuat laptop / komputer yang kita gunakan?
  • Siapa yang membuat handphone / smartphone yang kita gunakan?
  • Siapa yang membuat sistem operasi yang kita gunakan?
  • Berapa harganya?
  • Berapa banyak yang menggunakan di negara kita?
Mari kita jawab dengan jujur pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hasilnya mungkin akan mencengangkan kita sendiri.
Saya akan mengambil contoh di Indonesia.
  • Jumlah laptop yang terjual setiap tahun biasanya lebih dari 3 juta unit. Harga berkisar antara Rp. 3-5 juta / buah (US$300-500 / buah). Maka untuk hardrware laptop saja bangsa Indonesia harus mengeluarkan uang sekitar Rp. 9-15 Trilyun / tahun. Dan ini bukan utangan, ini semua uang rakyat yang di sedot ke para pemasok di luar negeri.
  • Jika masing-masing laptop di lengkapi dengan sistem operasi, seperti, Windows 7 atau Windows 8, yang harga EOM-nya sekitar US$50-100 di tambah dengan MS Office yang harganya US$200-300-an. Maka uang tambahan yang harus dikeluarkan untuk membeli software untuk laltop tersebut adalah sekitar Rp. 7.5 – 12 Trilyun / tahun ke Microsoft saja. Tidak heran kalau Microsoft sedemikian kaya.
  • Belum lagi handphone yang kita gunakan. Saat ini jumlah SIM card yang terjual di Indonesia sekitar 120% dari jumlah penduduk. Sementara jumlah HP yang beredar lebih dari 120 juta HP. Bahkan berita terakhir di detik.com, 3 bulan pertama di tahun 2013, Indonesia membelanjakan sekitar Rp. 6 Trilyun untuk membeli HP saja.
Apa arti semua ini? Bangsa Indonesia sebetulnya juga merupakan bangsa yang terjajah! Secara ekonomi! Terikat dan tergantung pada luar negeri untuk memenuhi kebutuhannya dengan kompenssasi harus menyetor dalam jumlah trilyun-an.

[edit] Ke depan

Secara teknologi membuat pabrik laptop, komputer, handphone, sebetulnya tidak sukar. Asal dimudahkan ijin, adanya jaminan pasar yang jelas, dan yang tidak kalah penting adalah adanya pasokan Sumber Daya Manusia, Energy (Listrik yang baik) , air bersih dan jumlah besar yang didukung dengan distribusi / logistik yang lancar. Sayang itu semua nampaknya masih angan-angan saja kalau di Indonesia karena setoran dan korupsi terlalu merajalela.
Alternatif lain yang lebih mudah adalah kita harus menggunakan sistem operasi yang bebas agar melepaskan ketergantungan pada penjajahan vendor sistem operasi. Pilihan tersebut akan jatuh pada sistem operasi open source khususnya Linux, seperti, ubuntu, edubuntu, debian, mint dll.
Taktik yang perlu dilakukan sebetulnya sangat sederhana yaitu:
  • Semua kurikulum sekolah mulai dari SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi harus menggunakan open source.
  • Format resmi dokumen pemerintahan HARUS menggunakan Open Document format, seperti odt, ods, odp. kalau mau di proses secara resmi.
  • Semua laptop / komputer yang digunakan oleh pegawai pemerintah harus mengunakan open source.
  • Yang paling mudah, semua server yang digunakan baik di pemerintah maupun swasta harus menggunakan open source.
Walaupun secara prinsip mudah, secara praktek biasanya akan memperoleh tantangan yang luar biasa terutama dari orang yang tua. Mereka biasanya sudah terlalu enak dengan sistem operasi Windows walaupun itu bajakan, akibatnya jika di minta untuk mengganti sistem operasi yang digunakan biasanya akan menolak.
Memang tidak mudah untuk melawan orang-orang yang keras kepala itu, bahkan guru-guru di Indonesia tetap saja mengajar menggunakan Windows padahal jelas-jelas buku pelajaran komputer yang resmi menggunakan open source.
Mereka biasanya baru sadar akan penggunaan open source, pada saat polisi datang ke kantor mereka dan menyita komputer yang menggunakan Windows bajakan.
Open Source sebetulnya mudah, terutama bagi mereka yang belum pernah mengenal komputer sama sekali. Pengenalan sejak dini akan memudahkan adopsi open source sebuah bangsa.

Pemuda, Harapan Islam Dalam Menghadapi Era Globalisasi

Seiring berkembangnya zaman yang semakin maju yang biasa disebut era Globalisasi. Era yang menghadirkan perubahan pada berbagai aspek kehidupan. Era  yang mengubah tatanan kehidupan manusia dari tradisional menuju modern. Era dimana segala sesuatu dapat dilakukan dan diperoleh secara instan. Pada intinya era globalisasi adalah era yang semakin memanjakan manusia dalam mengerjakan segala aktivitas kehidupannya. Disatu sisi era ini membawa dampak positif misalnya dalam hal komunikasi, pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain dapat diterima orang lain tersebut hanya dalam hitungan menit bahkan detik tanpa mengenal jarak dan waktu.
Disisi lain era globalisasi juga membawa dampak negatif. Salah satu contohnya nilai sosial dan hubungan antar sesama manusia semakin turun. Memang dengan komunikasi yang semakin canggih dapat mendekatkan yang jauh, namun terkadang juga menjauhkan yang dekat. Era globalisasi seakan meninabobokan manusia dalam kenyamanan dengan berbagai teknologinya.
Di negeri ini, era globalisasi identik dengan era yang membuka pintu lebar-lebar masuknya budaya asing yang membuat tatanan hidup mereka cenderung mirip orang asing daripada nenek moyangnya. Akibat dari terbukanya pintu dan tanpa ada filter yang kuat, membawa suatu virus ganas. Virus yang lebih dikenal dengan F4(Food, Fun, Fashion dan Film) dapat menyerang dan melumpuhkan kepribadian orang-orang di negeri ini khususnya pemuda. Pertama Food, realita dilapangan menunjukan orang di negeri ini lebih bangga ketika makan Steak, Pizza, Burger dan sejenisnya daripada makan pecel, klepon dan makanan tradisional lainnya. Kedua Fun, banyak pemuda yang lebih senang tongkrongan sambil gitaran atau pacaran sana sini daripada belajar. Hal ini terjadi karena doktrin-doktrin negatif yang masuk ke kepala mereka akibat semakin majunya teknologi. Ketika kita flashback ke beberapa puluh tahun yang lalu betapa luar biasanya pemuda pada saat itu, walaupun hanya dengan teknologi seadanya namun tak menjadikan mereka bermalas-malasan dan bersenang-senang justru hal tersebut yang menyulut semangat mereka untuk belajar agar dapat merubah kehidupannya kearah yang lebih baik. Ketiga Fashion, fashion atau penampilan tak luput dari pengaruh barat. Pakaian ketat, rok mini, gaya rambut acak-acakan menggeser kearifan dan kesantunan budaya lokal. Mereka menganggap itu lebih keren dan stylis daripada budaya lokal yang dianggap norak dan ketinggalan jaman. Keempat Film, akhir-akhir ini kita sering melihat film-film bergenre horor namun diselingi adegan-adegan sensualitas. Selain film tersebut, dikalangan pemuda banyak beredar video-video yang tak layak mereka tonton. hal itu seakan mendukung pikiran liberal pemuda-pemuda dalam berimajinasi sehingga tak sedikit pikiran liberal tersebut yang diinternalisasikan dan akhirnya banyak terjadi sex bebas, hamil diusia sekolah dan sebagainya. Bahayanya virus F4 tidak hanya menjangkit pemuda biasa saja tapi pemuda islam juga tertular ganasnya virus ini.
Sudah saatnya pemuda islam bangun dari ninabobok dampak globalisasi. Sudah saatnya pula bangkit dan mencari serta merebut setiap peluang yang ada untuk mengembalikan kejayaan islam di era globalisasi. Dengan dampak-dampak globalisasi itu hendaknya tidak menghalangi pemuda-pemuda islam untuk bergerak. Bergerak disini bukan berarti menolak atau pun memerangi era globalisasi tetapi bagaimana pemuda-pemuda islam mampu menempatkan dirinya dan mampu mengambil peran penting dalam era ini. Sebagai pemuda islam, jangan menutup diri terhadap perkembangan jaman. Tetapi hendaknya mempunyai prinsip seperti prinsip orang jepang, “ambil yang baik, buang yang buruk dan ciptakan yang baru” dan tentunya yang diambil itu yang sesuai syariat tanpa melanggar ketentuan Alqur’an maupun hadits. Dengan prinsip tersebut harapannya dapat mengubah mindset orang awam yang beranggapan bahwa islam itu konotasinya kuno, bodoh dan ketinggalan jaman berubah menjadi lebih berfikir positif terhadap islam.
Pemuda islam juga harus membuka diri terhadap perkembangan teknologi yang semakin canggih artinya pemuda islam mempelajarinya atau bahkan menciptakan teknologi baru yang lebih canggih. Karena Alloh tidak hanya menyuruh umatnya untuk belajar mengenai islam saja namun juga untuk mempelajari ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Dalam hadits Rosululloh Bersabda, “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina” (HR. Ibnu Abdil). Padahal waktu itu negeri cina bukanlah negeri yang mayoritas islam sehingga dari hadits tersebut dapat diartikan bahwa islam sangat menganjurkan umatnya untuk belajar segala ilmu selama masih dalam koridor syariat. Dengan adanya kemauan belajar dan sifat ulet serta pantang menyerah dalam belajar akan melahirkan ilmuwan-ilmuwan muslim di era modern.
Selain itu, Pemuda islam dapat memanfaatkan teknologi untuk kemajuan dan dakwah islam. Bila menelisik lebih jauh tentang kebiasaan mayoritas pemuda termasuk pemuda islam. Mereka seakan mempunyai satu dunia baru yakni dunia maya. Dunia yang membuat mereka nyaman dan leluasa untuk berekspresi tanpa ada batasan. Walaupun belum ada lembaga survey yang memberikan persentase pemuda negeri ini yang punya akun facebook maupun twitter. Tetapi melihat realita yang ada, mayoritas sudah mempunyai akun facebook atau twitter. Pemuda islam dapat mengambil perannya sebagai dai dengan menjadikan sosial media itu sebagai media dakwah sehingga akun tersebut membawa kebermanfaatan baik bagi dirinya maupun orang lain.
Dibidang ekonomi, pemuda islam dapat menerapkan muamalah sesuai syariat islam tanpa ada riba dalam setiap transaksi yang dilakukan. Fakta telah memperlihatkan bahwa sistem ekonomi yang diterapkan bangsa-bangsa barat tidak mampu menghadapi krisis global. Tetapi hanya sistem yang sesuai syariat islam yang mampu bertahan. Ini membuktikan bahwa sistem ekonomi yang dibangun dan dikembangkan sesuai syariat islam mampu menghadapi era globalisasi. Sistem ekonomi ini bila diterapkan dan ditekuni maka bukan tidak mungkin negeri-negeri islam yang masih miskin dapat sejajar dengan negeri-negeri kaya.
Dibidang politik, sistem kapitalis dan liberalis yang diterapkan bangsa-bangsa barat secara tidak langsung mempengaruhi kehidupan pemuda islam. Sistem-sistem itu membuat pemuda cenderung berprilaku liar dan ternyamankan oleh sistem sehingga nilai solidaritas dalam dirinya menurun. Sejarah mencatat dimana pemerintahan dengan sistem kekhalifahan mampu menaungi hampir 2/3 dunia dengan kedamaian dan ketentraman dibawah naungan panji islam. Keimanan dan ketaqwaanlah yang menjadi rahasia mereka mencapai kejayaan. Peran pemuda islam disini adalah menanamkan nilai-nilai kekhalifahan kepada  pemimpin atau setidaknya sebagai generasi yang akan memegang pimpinan selanjutnya sudah mempersiapkan diri dan membekali diri sebaik-baiknya sehingga kedamaian dibawah naungan islam kembali terjadi di era globalisasi.
Peran-peran tersebut dapat direalisasikan manakala pemuda islam mempunyai pondasi yang kuat dan kokoh agar tujuan mulia itu tercapai bukan malah terbawa arus negatif globalisasi. Setidaknya ada 4 hal sebagai pondasi tersebut, yaitu:
  • Tauhid yang kuat
Tauhid yang kuat akan mendorong seseorang berhati-hati melakukan sesuatu khususnya perbuatan negatif. Dengan adanya tauhid yang kuat perilaku akan selalu terjaga karena setiap akan melakukan sesuatu selalu ada pertimbangan apakah yang akan dilakukan nantinya diridhoi Alloh atau tidak. Sehingga menimbulkan output perbuatan-perbuatan yang baik karena ada kontrol dari ketauhidan yang kuat.  
  • Pemahaman agama yang kuat
Ilmu agama adalah salah satu podasi dalam mengarungi hidup yang berkah. Tanpa agama hidup seseorang akan kacau dan tak terarah. Dalam hal ini, bukan hanya pemahaman dan pengetahuan tentang islam yang kuat namun juga mampu menerapkannya. Aqidah yang kuat, akhlaq yang baik dan istiqomah dalam beribadah wajib maupun sunnah yang membentengi orang dari berbagai ancaman yang dapat membahayakannya.
  • Ilmu pengetahuan yang lebih
Ilmu pengetahuan yang lebih akan membantu pemuda islam dalam menjalankan peranya sebagai perubah peradaban. Tanpa ilmu bagaimana mungkin ia dapat melakukan perubahan. Tentunya seorang yang ingin merubah sistem pemerintahan haruslah mengerti dan memahami ilmu tentang pemerintahan. Tanpa pemahaman dan pengetahuan perubahan yang akan dilakukan justru akan memperburuk sistem pemerintahan. Pemuda islam tidak hanya dituntut untuk menekuni satu bidang ilmu saja namun juga menekuni berbagai bidang. Sehingga dengan bekal ilmu yang cukup ia siap melakukan perubahan dimana saja.
  • Niat tulus dan komitmen
Setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Sebagai agent of change sudah menjadi keharusan untuk melakukan perubahan. Perubahan yang didasari dengan niat semata-mata karena Alloh untuk merubah dari tatanan yang buruk kearah yang baik. Niat yang benar akan menghadirkan komitmen yang kuat sehingga mampu menangkis segala ancaman-ancaman yang mencoba menghadang. Selain itu juga menghadirkan Ghiroh atau semangat pantang menyerah untuk berjuang menjalankan peran dalam menghadapi tantangan global.
           
Pada dasarnya di era globalisasi, pemuda islam memikul suatu beban berat yakni merubah tatanan-tatanan kehidupan yang buruk kearah yang lebih baik untuk segala aspek kehidupan. Memang itu sangat membutuhkan perjuangan yang super ekstra keras agar terealisasi menjadi nyata. Man Jadda wa Jada Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya. Sejarah sudah memberi teladan betapa luar biasa perjuangan yang dilakukan Muhammad Al-fatih untuk melakukan perubahan yakni dengan menjalankan kapal besar dilautan gurun. Selain itu ada Shalahuddin Al-Ayyubi dengan usaha dan perjuangannya yang tak kalah luar biasa dengan Al-Fatih dalam menaklukan Yerussalem. Itu hanya dua contoh dimana seorang diusia mudanya mampu mengoptimalkan peluang untuk merubah peradaban.
           
Kini tinggal kita sebagai salah satu pemuda islam ingin menempatkan posisi dimana, menjadi aktor utama perubahan, pemeran pendukung atau bahkan yang lebih ironis hanya menjadi penonton. Pertanyaan  tersebut hanya kita yang bisa menjawab dan bukan hanya sekedar jawaban dari mulut tapi juga ada realisasinya. Mereka saja yang pada jaman teknologi masih sederhana dapat mengambil peluang dan berperan sebagai agent of change, mengapa kita tidak?  Mumpung masih muda, semangat masih membara, inovasi dan kreativitas terus ada dan didukung teknologi yang luar biasa maka marilah bersama rapatkan barisan untuk menjadi Al-Fatih atau Al-Ayubi era modern yang cerdas mengambil setiap peluang dan menciptakan perubahan. Sudah bukan saatnya pula berselisih sesama muslim tapi saatnya bersatu membentuk kesatuan padu untuk menghadapi segala bentuk ancaman terhadap islam. Sehingga umat ini tetap menyadang gelar Khairu ummah di bumi Alloh SWT.

Kemerdekaan Sebuah Bangsa di jaman Globalisasi Modern

Konsep Penjajahan Modern

Pada masa lalu kemerdekaan sebuah bangsa lebih banyak di tandai oleh kebebasan dari penjajahan secara fisik. Penjajah pada masa lalu biasanya datang menggunakan senjata lengkap dengan peluru dan peralatan tempur lainnya. Pertempuan melawan penjajah dapat berakibat fatal dengan taruhan nyawa melayang.
Pada saat ini, kebanyakan negara di dunia secara fisik nampaknya bebas dati penjajahan secara konvensional tersebut. Tentara / prajurit lebih banyak berfungsi untuk menjaga keamanan negara dari kaum perusuh dan mungkin teroris. Yang lebih sering bermotif agama. Tidak terlalu banyak konflik yang bermotif kebangsaan.
Walaupun tampak seperti negara merdeka, sebetulnya kebanyakan negara masih tidak merdeka secara non-fisik. Penjajahan pada hari ini tampaknya jauh lebih halus bentuknya dari pada masa lalu. Penajajah hari ini lebih banyak bersifat penjajahan ekonomi yang membuat sebuah bansga tidak mandiri, menjadi sangat tergantung.
Dalam bahasa ekonomi, penjajahan lebih bersifat konsumen versus produsen. Negara yang di “jajah” biasanya berada pada posisi konsumen, yang sangat tergantung pada negara “penjajah” yang berada pada posisi produsen. Posisi ini, di usahakan sedapat mungkin bertahan agar negara yang di “jajah” tetap membeli & akhirnya mengalirkan devisa secara terus menerus ke negara “penjajah” yang memproduksi barang / jasa tersebut.
Penjajahan modern ini sebetulnya mengakar mulai dari yang paling dasar, yaitu, pangan dan energy. Di Indonesia misalnya, pemerintah lebih suka membuat kebijakan mengimport bahan pangan murah dari luar negeri di bandingkan dengan memberdayakan kaum petani lokal. Akibatnya, petani menjadi bangkrut dan ini menyeret seluruh bangsa menjadi kaum fakir yang harus mengimport makanan terus menerus untuk bisa hidup. Tidak ada usaha serius untuk mempertahankan kaum petani ini. Di bidang energy, juga tidak berbeda jauh dengan pangan.

Mari Berhitung

Mari kita berbicara tentang teknolologi khususnya teknologi IT. Sebetulnya secara prinsip sama saja dengan bidang yang lain.
Pertanyaan sederhana pada diri kita masing-masing, msailnya,
  • Siapa yang membuat laptop / komputer yang kita gunakan?
  • Siapa yang membuat handphone / smartphone yang kita gunakan?
  • Siapa yang membuat sistem operasi yang kita gunakan?
  • Berapa harganya?
  • Berapa banyak yang menggunakan di negara kita?
Mari kita jawab dengan jujur pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hasilnya mungkin akan mencengangkan kita sendiri.
Saya akan mengambil contoh di Indonesia.
  • Jumlah laptop yang terjual setiap tahun biasanya lebih dari 3 juta unit. Harga berkisar antara Rp. 3-5 juta / buah (US$300-500 / buah). Maka untuk hardrware laptop saja bangsa Indonesia harus mengeluarkan uang sekitar Rp. 9-15 Trilyun / tahun. Dan ini bukan utangan, ini semua uang rakyat yang di sedot ke para pemasok di luar negeri.
  • Jika masing-masing laptop di lengkapi dengan sistem operasi, seperti, Windows 7 atau Windows 8, yang harga EOM-nya sekitar US$50-100 di tambah dengan MS Office yang harganya US$200-300-an. Maka uang tambahan yang harus dikeluarkan untuk membeli software untuk laltop tersebut adalah sekitar Rp. 7.5 – 12 Trilyun / tahun ke Microsoft saja. Tidak heran kalau Microsoft sedemikian kaya.
  • Belum lagi handphone yang kita gunakan. Saat ini jumlah SIM card yang terjual di Indonesia sekitar 120% dari jumlah penduduk. Sementara jumlah HP yang beredar lebih dari 120 juta HP. Bahkan berita terakhir di detik.com, 3 bulan pertama di tahun 2013, Indonesia membelanjakan sekitar Rp. 6 Trilyun untuk membeli HP saja.
Apa arti semua ini? Bangsa Indonesia sebetulnya juga merupakan bangsa yang terjajah! Secara ekonomi! Terikat dan tergantung pada luar negeri untuk memenuhi kebutuhannya dengan kompenssasi harus menyetor dalam jumlah trilyun-an.

Ke depan

Secara teknologi membuat pabrik laptop, komputer, handphone, sebetulnya tidak sukar. Asal dimudahkan ijin, adanya jaminan pasar yang jelas, dan yang tidak kalah penting adalah adanya pasokan Sumber Daya Manusia, Energy (Listrik yang baik) , air bersih dan jumlah besar yang didukung dengan distribusi / logistik yang lancar. Sayang itu semua nampaknya masih angan-angan saja kalau di Indonesia karena setoran dan korupsi terlalu merajalela.
Alternatif lain yang lebih mudah adalah kita harus menggunakan sistem operasi yang bebas agar melepaskan ketergantungan pada penjajahan vendor sistem operasi. Pilihan tersebut akan jatuh pada sistem operasi open source khususnya Linux, seperti, ubuntu, edubuntu, debian, mint dll.
Taktik yang perlu dilakukan sebetulnya sangat sederhana yaitu:
  • Semua kurikulum sekolah mulai dari SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi harus menggunakan open source.
  • Format resmi dokumen pemerintahan HARUS menggunakan Open Document format, seperti odt, ods, odp. kalau mau di proses secara resmi.
  • Semua laptop / komputer yang digunakan oleh pegawai pemerintah harus mengunakan open source.
  • Yang paling mudah, semua server yang digunakan baik di pemerintah maupun swasta harus menggunakan open source.
Walaupun secara prinsip mudah, secara praktek biasanya akan memperoleh tantangan yang luar biasa terutama dari orang yang tua. Mereka biasanya sudah terlalu enak dengan sistem operasi Windows walaupun itu bajakan, akibatnya jika di minta untuk mengganti sistem operasi yang digunakan biasanya akan menolak.
Memang tidak mudah untuk melawan orang-orang yang keras kepala itu, bahkan guru-guru di Indonesia tetap saja mengajar menggunakan Windows padahal jelas-jelas buku pelajaran komputer yang resmi menggunakan open source.
Mereka biasanya baru sadar akan penggunaan open source, pada saat polisi datang ke kantor mereka dan menyita komputer yang menggunakan Windows bajakan.
Open Source sebetulnya mudah, terutama bagi mereka yang belum pernah mengenal komputer sama sekali. Pengenalan sejak dini akan memudahkan adopsi open source sebuah bangsa.

Remaja Modern di Era Globalisasi

Memasuki era baru di tahun 2010, telah menghadang di depan mata kita berjuta rintangan dan tantangan besar yang mampu menghalangi laju kembang bangsa ini khususnya para pemuda Indonesia. Jika tak disikapi secara bijak dan tak dipersiapkan secara baik dan matang, bisa jadi kita akan terseret ganasnya arus globalisasi.
Tantangan hidup remaja dunia saat ini dan yang akan datang tiada lain, yakni globalisasi. Globalisasi itu sendiri merupakan sebuah fase ketika kita akan dihadapkan pada sebuah kenyataan munculnya kebudayaan baru (new culture), yaitu budaya Dunia –bukan budaya Indonesia atau Amerika–.  Di sana, tidak ada lagi batas-batas yang signifikan di antara satu negara dengan negara lain, suatu daerah dengan daerah lain, ataupun suatu benua dengan benua lain. Di zaman global tersebut, tidak ada batas-batas ideologi dan agama, semuanya berinteraksi secara harmonis dan tanpa mempermasalahkan saya berideologi apa? Anda berideologi apa? Oleh karena itu, interaksi dan pergaulan para remaja pada abad global ini menjadi sangat terbuka atau tanpa batas. Mau tidak mau, sasaran empuk dari globalisasi ini adalah remaja dan para pemuda.
Berbicara tentang pemuda masa kini, saya sedikit mengutip wacana dari sebuah buku yang pernah saya baca. Berikut isi wacananya.
“Para pemuda pada mulanya merupakan harapan dan kekayaan umat ini, generasi masa depan yang bersinar, musim semi yang sangat indah, denyut jantung yang selalu berdetak, serta pagar pelindung bagi umat dan dan bangsa ini dari terpaan angin yang angkuh dan hantaman arus yang menghanyutkan. Namun setelah mereka berpaling dari jalan kebaikan, maka terjatuhlah mereka ke dalam lumpur obat-obat bius dan terbuang sia-sialah kekayaan yang berharga tersebut. Hingga harapan masa depan itu menjadi sesuatu yang hadir penuh dengan keburukan, layu mengeringlah bunga-bunga yang mulai merekah kemudian berguguran, berhentilah jantung dari detak denyutnya dan pagar pelindung pun rapuh terkoyak. Maka angin badai dan arus pun melanda hingga hanyut bersamanya pemikiran-pemikiran yang menggiring mereka ke dalam neraka Hawiyah.”
Itulah isi kutipan wacana yang dimuat dan diungkapkan secara gamblang dalam sebuah buku karya Salim al-‘Ajmi yang berjudul Wahai Pemuda Kemana Tujuan Hidupmu???
Mari sejenak kita renungkan makna yang terkandung dalam kutipan wacana di atas. Betapa dalam dan luas makna yang terkandung di dalamnya. Apalagi jika mengaitkannya dengan keadaan para pemuda masa kini. Sungguh, jika kita mau jujur mengakui kenyataan pahit yang sedang menimpa generasi muda bangsa saat ini, tentu hati kecil kita akan bertanya-tanya. Mengapa ini bisa terjadi? Sudah menjadi konsumsi publik, bahwa bangsa Indonesia belum bisa dikatakan dewasa dalam menghadapi suatu permasalahan. Hal ini bisa dilihat dari kebiasaan orang-orang kita yang seringkali saling tuding mencari siapa yang salah. Jelas ini bukan merupakan jalan penyelesaian dari suatu permasalahan. Ibarat pepatah mengatakan, nasi telah menjadi bubur. Semuanya telah terjadi. Satu hal yang harus selalu kita ingat bahwa segala yang terjadi hari ini maupun yang  akan terjadi esok hari, merupakan hasil yang akan kita petik dari apa yang telah kita tanam di masa lalu.
Kembali pada objek permasalahan, sebagai tindak lanjut menyikapi keadaan kaum muda saat ini, saya ingin sedikit berbagi pengetahuan tentang siapa itu pemuda atau lebih spesifik kepada remaja. Mudah-mudahan ini bisa dijadikan salah satu terobosan bagi seluruh lapisan masyarakat dalam upayanya mengenali dan memahami serta diharapkan mampu menyikapi secara jernih dan tanggap terhadap perilaku yang umum dan ada pada tiap-tiap diri remaja. Berikut ini pemaparan lengkapnya.
Pada tanggal 12-13 September 2009 lalu, Mitra Citra Remaja (MCR) – PKBI Cirebon menggelar kegiatan Training Peer Educator Remaja Usia  16-24 tahun di Asrama Haji Watubelah Cirebon. Dalam training ini saya banyak mendapat informasi baru seputar dunia remaja dan lika-liku kehidupannya. Dijelaskan bahwa definisi remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa.
Nah, adapun perilaku yang umum dimiliki tiap remaja juga dijelaskan dalam kesempatan yang sama ada 5 macam. Pertama, Remaja itu berani, tetapi sering kurang perhitungan. Kedua, pada hakikatnya tiap remaja ingin hidup bebas, walaupun sebenarnya belum punya kemampuan untuk mandiri. Ketiga, remaja selalu ingin tampil beda dalam rangka pencarian dan pengembangan jati dirinya, walaupun kadangkala sering berakhir dengan persaingan yang tak sehat. Keempat, remaja memiliki sikap optimis, namun seringkali dibayang-bayangi perasaan cemas, sensitif dan mudah tersinggung. Terakhir, remaja tergolong cepat dan mudah dalam menerima informasi, namun seringkali dapat mencelakakan dirinya sendiri.
Mungkin itulah bagian kecil pengetahuan tentang remaja. Sedikit informasi yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan dapat memotivasi para pembaca untuk terus mencari dan menggali informasi tambahan dalam rangka demi memberikan kenyamanan bagi para pemuda termasuk remaja di dalamnya, dalam menjalani masa-masa sulit yang sedang dihadapinya.
Dorongan dan motivasi serta perhatian yang lebih, agaknya perlu lebih intensif dicurahkan pada generasi muda kita agar mampu berkembang ke arah yang optimal dan mampu menjawab kebutuhan bangsa Indonesia di era globalisasi, yaitu lahirnya remaja modern yang unggul dalam ilmu dan anggun dalam akhlak. Remaja yang dapat membedakan mana yang mesti dilakukan dan mana yang tidak. Remaja yang dapat membedakan zaman dulu dengan zaman sekarang. Remaja yang dapat membedakan nilai-nilai baik dan buruk, lalu memilihnya secara baik dan benar. Remaja yang dapat membedakan mana nilai lama yang mesti ditinggalkan dan mana nilai lama yang harus tetap dipertahankan. Remaja yang dapat membedakan nilai-nilai kekinian mana yang baik dan tidak. Remaja yang dapat mempertimbangkan keseimbangan hidupnya. Remaja yang dapat mengikuti ritme kehidupan (kapan pun dan dimana pun), namun tetap menjadi dirinya sendiri karena selalu berpegang teguh pada al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Itulah perspektif remaja modern yang kita harapkan.
Saya yakin harapan ini akan dapat diwujudkan di masa mendatang melalui peran serta kita semua yang peduli akan masa depan pemuda dan bangsa Indonesia.Untuk itu, mari kita jadikan momentum awal tahun ini untuk mengawali sebuah perubahan besar. Insya Allah tak ada usaha yang sia-sia jika kita mau bersungguh-
sungguh dalam meraih apa yang kita cita-citakan. Perubahan yang besar selalu berawal dari hal-hal yang kecil, dimulai dari sekarang dan mulainya pun dari diri sendiri. Wallahu a’lam bishowab

Budaya, Pendidikan dan Media di Era Globalisasi

Dalam ajang Global Media Forum, di Bonn Jerman, mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie hadir sebagai salah satu panelis dan berbicara tentang pemikiran akan masyarakat sipil yang modern.
Jusuf Habibie di Global Media Forum 2012
Dalam pemaparannya di ajang GMF, mantan presiden BJ. Habibie, mengemukakan bahwa di era globalisasi, hak asasi manusia diiringi dengan rasa tanggungjawab, sementara pendidikan dan penanaman budaya diupayakan sedini mungkin mampu menelurkan masyarakat yang memelihara dialog antar budaya. Sehingga keragaman masyarakat bukan hanya menciptakan iklim kompetisi, namun kesejahteraan, perdamaian dan masyarakat yang berbudaya. Berikut perbincangannya lebih lanjut dengan Deutsche Welle.
Jusuf Habibie di Global Media Forum 2012
DW: Sejauh mana globalisasi membantu proses asimilasi masyarakat berbeda budaya atau sebaliknya?
Habibie: Kalau kita bisa pandai-pandai memanfaatkan teknologi dan memperkuat pertahanan budaya, kita bisa bersinergi positif dan mengambil keuntungan dari globalisasi tersebut, sehingga bisa meningkatkan produktivitas.
Produktivitas itu adalaf fungsi dari tiga elemen: budaya, agama, pengertian terhadapa ilmu pengetahuan dan teknologi. Bila ketiganya harmonis, maka produktivitas akan meningkat.
DW : Penetrasi budaya global dikeluhkan menyurutkan identitas budaya setempat. Bagaimana pendapat Anda tentang itu?
Habibie: kalau kita tidak membuat usaha atau langkah yang menunjang meningkatnya ketahanan budaya kita, jangan heran bila budaya lain masuk. Kita tak dapat menghindari masuknya internet. Siapa saja dapat memberikan informasi, yang mungkin merugikan dalam proses pembudayaan. Namun kita mengenal proses pendidikan. Pendidikan dilaksanakan dasarnya di sekolah, pembudayaan dimulai di dalam kandungan ibu. Sampai ia mati akan mengalami pendidikan dan pembudayaan. Kita mengasosiasikan pendidikan dengan sekolah? Tentu tidak. Pendidikan dialami individu hingga individu itu mati. Karena itu pemimpin masyarakat harus pandai menyediakan kepada sumber daya manusia, mulai dari rahim ibu, proses pembudayaan dan pendidikan. Itu harus diusahakan agar semua orang dapat menikmatinya tanpa pandang bulu. Pemerataan harus berfungsi.
P Global Media Forum
DW : Internet semakin maju, seiring dengan masih eksisnya media tradisional. Di era globalisasi ini apakah media tradisional sudah pada kapasistasnya dalam membangun toleransi antara budaya?
Habibie: Saya berpendapat, media adalah kekuatan yang ke-empat dalam dunia modern ini. Seperti 264 tahun lalu, seorang negarawan dan ilmu kenegeraan Montesquieu, ia memberi perhatian pada tiga kekuatan ialah: legislatif, eksekutif dan yudikatif. Dia berpendapat, ini tak boleh dikendalikan oleh satu kekuatan atau satu grup saja, karena kalau ini terjadi, akan hilang obyektivitasnya dan merugikan rakyat.
Waktu saya harus melaksanakan tugas mengambil alih jabatan dari Suharto (mantan presiden), kita mengalami bermacam masalah. Mulai dari banyaknya PHK, jatuhnya nilai rupiah terhadap dollar, kekurangan sembako, inflasi tinggi, saya harus selesaikan itu. Waktu itu sudah berbahaya. Saya melihat satu kekuatan, yakni “People Power“, atau kekuatan rakyat yang tercermin dalam dua hal: kebebasan berbicara dan kebebasan pers untuk dapat mengeluarkan pendapat. Kekuatan itu yang harus saya manfaatkan untuk menghadapi kekuatan tidak sehat yang saya warisi (eksekutif, yudikatif dan legislatif, dikendalikan oleh satu kelompok/individu). Untuk pertama kalinya akhirnya secara sadar kekuatan keempat diterapkan. Itu ada dalam pidato saya sebagai presiden baru, ya baru dua bulan, Saya bilang ‘ini ada kekuatan keempat, dan saya laksanakan secara konsekuen'. Saya yakin media berusaha seobyektif mungkin. Karena kalau tidak obyektif, maka akan bangkrut.
Dengan membina kekuatan keempat dengan memberi kebebasan kepada media, tapi juga kebebasan kepada rakyat untuk memilih media yang mana, media kita produktif, dan akan bergandengan tangan dengan rakyat, agar sasaran kita terkena: produktivitas meningkat, obyektif tetap tapi subyektif pada kepentingan rakyat. Ketahahan budaya diberikan lewat otonomi daerah.
DW : Perkembangan internet dimanfaatkan berbagai pihak, misalnya untuk penyebaran fundamentalisme yang mengancam akar-akar demokrasi yang sudah sekian lama dipupuk. Bagaimana peran media meng-counter hal tersebut?
Habibie: Media harus memperlihatkan bahwa apa yang disampaikan mereka (fundamentalis) itu tidak benar. Oleh sebab itu media harus obyektif dan subyektif kepada kepentingan rakyat yang diwakili media. Media harus memberikan informasi yang tepat kepada rakyat untuk meningkatkan produktivitasnya dalam memperjuangkan sesuatu.
Kita lihat saja, orang dulu takut dengan diberikan kebebasan itu, 'woah semua akan menjadi Islam' , tapi kita lihat saja pada pemilu, tidak ada partai fundamentalis yang dipilih, masuk DPR saja tidak....jadi buat apa takut.

Pengertian Globalisasi

Globalisasi adalah proses penyebaran unsur-unsur baru khususnya yang menyangkut informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronik.
Khususnya, globalisasi terbentuk oleh adanya kemajuan di bidang komunikasi dunia.
Ada pula yang mendefinisikan globalisasi sebagai hilangnya batas ruang dan waktu akibat kemajuan teknologi informasi. Globalisasi terjadi karena faktor-faktor nilai budaya luar, seperti:
a. selalu meningkatkan pengetahuan; f. etos kerja;
b. patuh hukum; g. kemampuan memprediksi;
c. kemandirian; h. efisiensi dan produktivitas;
d. keterbukaan; i. keberanian bersaing; dan
e. rasionalisasi; j. manajemen resiko.

Globalisasi terjadi melalui berbagai saluran, di antaranya:
a. lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan;
b. lembaga keagamaan;
c. indutri internasional dan lembaga perdagangan;
d. wisata mancanegara;
e. saluran komunikasi dan telekomunikasi internasional;
f. lembaga internasional yang mengatur peraturan internasional; dan
g. lembaga kenegaraan seperti hubungan diplomatik dan konsuler.


Globalisasi berpengaruh pada hampir semua aspek kehidupan masyarakat. Ada masyarakat yang dapat menerima adanya globalisasi, seperti generasi muda, penduduk dengan status sosial yang tinggi, dan masyarakat kota. Namun, ada pula masyarakat yang sulit menerima atau bahkan menolak globalisasi seperti masyarakat di daerah terpencil, generasi tua yang kehidupannya stagnan, dan masyarakat yang belum siap baik fisik maupun mental.


Unsur globalisasi yang sukar diterima masyarakat adalah sebagai berikut.
a. Teknologi yang rumit dan mahal.
b. Unsur budaya luar yang bersifat ideologi dan religi.
c. Unsur budaya yang sukar disesuaikan dengan kondisi masyarakat.
Unsur globalisasi yang mudah diterima masyarakat adalah sebagai berikut.
a. Unsur yang mudah disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.
b. Teknologi tepat guna, teknologi yang langsung dapat diterima oleh masyarakat.
c. Pendidikan formal di sekolah.
Modernisasi dan globalisasi membawa dampak positif ataupun negatif terhadap perubahan Sosial dan budaya suatu masyarakat.

Dampak dan Perkembangan Era Globalisasi

masterdjafarindra.blogspot.com, JAKARTA -- Perkembangan informasi dan teknologi memiliki peran penting dalam era komunikasi modern saat ini. Telah banyak para pengguna teknologi canggih yang meng-up date perkembangan informasi dari waktu ke waktu dengan akses mudah.
Jaringan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang perkembangannya sangat pesat, turut melahirkan sebuah fase media baru yaitu: kemunculan media digital. Kemajuan teknologi komunikasi informasi ini harus diakui memberikan paradigma baru yang mengubah keseluruhan cara pandang kita tentang berbagai masalah dan persoalan yang ada di muka bumi ini.
Perubahan paradigma ini juga mempengaruhi media massa, khususnya media konvensional. Harus diakui kalau media baru dalam bentuk elektronik yang lalu lalang di jaringan internet adalah media informasi masa depan, media yang memiliki footprint yang luar biasa menjangkau berbagai lapisan pembaca dari berbagai kelas, dan akan melampaui jumlah pembaca media konvensional.
Ke depannya, kita hanya bisa memprediksi apa yang akan terjadi terkait evolusi media baru. Berbagi pengetahuan dan pemahaman melalui diskusi, kegiatan konferensi, turut berkontribusi dalam memberikan informasi masa depan media baru. Salah satunya adalah kegiatan Konferensi Internasional tentang New Media Studies (CONMEDIA 2013) yang dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis, 27-28 November 2013 di kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong, Tangerang-Banten.
Konferensi ini adalah forum internasional untuk studi media baru yang meliputi semua aspek konten media baru, bisnis dan teknologi. Dalam acara ini menampilkan para pembicara terkemuka, di antaranya: Prof. Tahee Kim dari Youngsan University Korea - Kuncoro Wastuwibowo, Chairman IEEE Indonesia Section - Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit dari APTIKOM Indonesia - dan Mr. John Cokley dari Swinburne University Australia.
Dalam kesempatan ini, Hira Meidia, Ph.D - Chair ConMedia 2013 mengatakan,
“Konferensi ini adalah yang kedua dilaksanakan oleh Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Kali ini dalam konferensi hadir 8 keynote speaker, para profesional yang terkemuka di bidangnya, terdapat 35 presentasi, dan lebih dari 30 peserta yang ikut berpartisipasi dalam konferensi ini. Kami berharap peserta akan mendapat pengetahuan dari paparan yang disampaikan para nara sumber.”
Para nara sumber ini memberikan pemaparan tentang Media Baru (New Media) dengan topik-topik tentang: New Media Content, Dampak sosial dan politik media digital, Citizen journalism, E-learning dan konten Pendidikan, Media Bisnis Baru, E–commerce, Kewirausahaan Media baru, industri kreatif, Peraturan konvergensi media, Model bisnis baru, Teknologi Media Baru, Teknologi digital untuk industri kreatif, teknologi infrastruktur, platform komputasi, Teknologi antarmuka pengguna, aplikasi Mobile, Embedded system dan komunikasi.